Humas Skanja
Humas Skanja
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Edukasi Remaja di SMK N Jambu: Kolaborasi Mahasiswa UIN Walisongo Usung Isu Peran Gender, Anti-Bullying, dan Etika Bermedia Sosial

 



JAMBU – Dalam upaya membangun karakter remaja yang inklusif, aman, dan bijak di era digital, rombongan mahasiswa UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk "Psikoedukasi Peran Gender" di SMK N Jambu pada Kamis (20/8/2026).

Acara yang berlangsung selama tiga jam, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini, dipandu oleh Saudari Dzakia selaku pembawa acara. Sebanyak 68 siswa antusias mengikuti rangkaian materi yang dibawakan oleh tim pemateri dari Mahasiswa UIN Walisongo, yakni Lisa, Vanya, dan Hasan Ali. Kegiatan ini diprakarsai oleh rombongan yang beranggotakan 15 mahasiswa UIN Walisongo sebagai bentuk pengabdian dan kepedulian terhadap dinamika kehidupan remaja saat ini.

Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman mendalam terkait kesadaran gender, bahaya perundungan (bullying), serta kepekaan dalam menggunakan media sosial di kalangan pelajar menengah.

Tiga Pokok Pesan untuk Masa Depan Remaja

Materi pertama yang disampaikan oleh Saudari Lisa berfokus pada pentingnya mematahkan stigma gender di lingkungan sekolah maupun bermasyarakat. Ia menekankan agar para pelajar tidak membatasi potensi diri maupun sesama hanya berdasarkan stereotip gender.

"Jangan membatasi diri atau orang lain hanya karena laki-laki atau perempuan. Setiap orang berhak memilih, belajar, dan mengejar cita-citanya. Yuk, saling menghargai dan memberikan kesempatan yang sama," ujar Lisa di hadapan para peserta.

Selanjutnya, Saudari Vanya membawakan isu perundungan yang kerap kali bersembunyi di balik dalih gurauan dalam interaksi sehari-hari. Menurutnya, lingkungan pertemanan merupakan fondasi utama pembentukan karakter sosial, sehingga penting untuk menjaga tutur kata.

"Kita perlu sama-sama menyadari bahwa lingkup pertemanan adalah upaya pembentukan karakter. Menghindari ujaran atau umpatan yang menyakiti orang lain jauh lebih penting daripada memperbaiki dampaknya kemudian," tegas Vanya. Ia juga menggarisbawahi poin penting: candaan berpotensi menjadi bullying, tapi bullying bukanlah candaan.

Sesi materi ditutup oleh Saudara Hasan Ali yang menyoroti kerentanan remaja di ruang digital. Ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan pemahaman etika bermedia sosial agar tidak menjadi korban maupun pelaku kejahatan siber.

"Kewaspadaan dan pemahaman bijak bermedia sosial patut ditekankan sejak usia remaja karena remaja rentan menjadi korban. Menuruti tren atau tekanan rekan sejawat bukan berarti kita aman dan selamat," tutur Hasan Ali.

Membangun Kesadaran Sejak Dini

Melalui pemaparan ketiga narasumber, kegiatan ini menyimpulkan bahwa kesadaran gender, menjaga etika pertemanan, serta bijak dalam bermedia sosial merupakan tiga pilar utama yang wajib dipahami oleh generasi muda. Rangkaian edukasi ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih positif, toleran, dan bebas dari tindakan perundungan, baik secara langsung maupun di dunia maya.

Penulis : Jurnalis SKANJA

Berbagi

Posting Komentar